Pasar saham di kawasan Asia Pasifik anjlok tajam pada awal pekan akibat ultimatum Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Fokus utama konflik kini juga tertuju pada Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Kapal selam tersebut adalah HMS Anson, salah satu armada canggih milik Royal Navy. Kapal ini dikenal memiliki kemampuan tempur tinggi, termasuk meluncurkan serangan presisi jarak jauh.
Dalam pernyataannya, Trump memberikan tenggat waktu yang tegas kepada Iran. Ia menuntut agar jalur air vital tersebut segera dibuka dalam waktu 48 jam.
Netanyahu menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari tekanan militer dan strategi keamanan yang diterapkan dalam beberapa waktu terakhir.
Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat tajam setelah Iran memperluas serangan terhadap fasilitas minyak dan gas, memicu kekhawatiran baru akan krisis energi global yang lebih dalam.
ematian dua tokoh penting ini berpotensi menjadi pukulan besar bagi struktur pertahanan internal Iran, terutama dalam konteks operasi keamanan domestik dan regional.
Saran tersebut mencerminkan pendekatan lama kerajaan Saudi terhadap Iran, yang sebelumnya juga disuarakan oleh mendiang Raja Abdullah bin Abdulaziz Al Saud.
Agenda rapat ini dilaksanakan di luar kantor pemerintahan formal sebagai bagian dari upaya Presiden untuk memperkuat koordinasi lintas lembaga. Menurut Seskab Teddy, rangkaian pertemuan ini mencakup isu pendidikan tinggi, geopolitik, sekaligus kesiapan nasional menjelang momentum besar seperti Hari Raya Idulfitri.
Rekan sekomite, Mohammad Mehdi Mirbagheri, juga mengonfirmasi dalam sebuah video bahwa sudah ada pandangan mayoritas yang tegas di antara anggota tentang sosok yang akan dipilih.