Jakarta, Aktualis.ID - Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun. Angka ini setara dengan 0,98% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Laporan tersebut disampaikan kemarin, Senin (20/7), di Jakarta, menyoroti tekanan pada keuangan negara akibat realisasi penerimaan yang melambat dan akselerasi belanja.
Defisit ini terjadi karena realisasi pendapatan negara hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.250,3 triliun, atau 49,8% dari target APBN 2026. Sementara itu, belanja negara telah mencapai Rp1.446,8 triliun, atau 46,7% dari pagu yang ditetapkan. Kondisi ini menunjukkan adanya pelebaran selisih antara pemasukan dan pengeluaran pemerintah di tengah dinamika ekonomi domestik.
"Penurunan penerimaan negara, terutama dari sektor pajak, menjadi faktor utama pelebaran defisit ini. Kami terus memantau dan melakukan optimalisasi di berbagai lini untuk menjaga keberlanjutan fiskal," ujar Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Bapak Sigit Priyono, dalam konferensi pers kemarin. Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga disiplin fiskal.
Penerimaan pajak hingga Juni 2026 tercatat Rp980,2 triliun, tumbuh tipis dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp270,1 triliun. Di sisi belanja, belanja pemerintah pusat mencapai Rp1.020,5 triliun, dan transfer ke daerah serta dana desa terealisasi Rp426,3 triliun.
Kata Aktualizer
- Belum ada komentar.