Rusia menghadapi gelombang tantangan baru yang disebut sebagai "kiamat" ekonomi dan demografi. Presiden Vladimir Putin buka-bukaan mengenai kondisi ini.
Serangan mematikan oleh kelompok Taliban di perbatasan Pakistan memicu kekhawatiran akan perang skala penuh dan potensi ancaman terhadap stabilitas di negara nuklir Asia ini.
Baru seumur jagung sebuah kesepakatan de-eskalasi dicapai, Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah selatan Lebanon, memicu kekhawatiran global.
Keputusan darurat ini tidak terhindarkan mengingat pemerintah tidak lagi mampu menanggung beban subsidi energi yang membengkak di tengah menyusutnya cadangan devisa dan berkurangnya puluhan jadwal kargo gas alam cair (LNG) dari pasar internasional.
Inti ancaman Trump sangat gamblang. Dalam wawancara yang dikutip Reuters, ia berkata, “If they don’t do something by Tuesday evening, they won’t have any power plants and they won’t have any bridges standing.”
Akar kepanikan pasar kali ini bukan hanya dentuman misil di Timur Tengah, tetapi juga runtuhnya harapan de-eskalasi. Setelah sempat muncul optimisme soal peluang jeda konflik, sentimen itu buyar ketika Iran menolak sinyal damai dari Washington.
Ia menyebut bahwa alasan utama di balik sikap tertutup Iran adalah rasa takut terhadap konsekuensi politik dan keamanan di dalam negeri.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan bahwa ia telah menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan menjaga keamanan energi nasional.
Trump mengklaim keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi yang “baik dan produktif” antara pihak Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyebutnya sebagai bagian dari manipulasi informasi.