Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ibu Dr. Rina Kusuma, menyoroti pentingnya efisiensi belanja. "Defisit yang mencapai hampir Rp200 triliun per semester pertama ini memerlukan perhatian serius. Pemerintah harus lebih selektif dalam alokasi belanja dan mencari sumber-sumber penerimaan yang berkelanjutan tanpa membebani masyarakat," kata Dr. Rina saat dihubungi hari ini.
Untuk menutupi defisit tersebut, pemerintah telah melakukan pembiayaan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan pinjaman. Hingga Juni 2026, pembiayaan utang telah mencapai Rp210,7 triliun.