Pramono Anung Minta Pagar Besi di Mal dan Gedung Dilepas, Khawatir Keamanan Berlebihan

Jakarta, Aktualis.ID - Pramono Anung, Sekretaris Kabinet, secara tegas meminta agar pagar besi dan berbagai bentuk pembatas keamanan berlebihan di pusat perbelanjaan serta gedung-gedung publik di seluruh Indonesia segera dilepas. Pernyataan ini disampaikan kemarin, Sabtu, 01 Agustus 2026, di Jakarta, dalam sebuah diskusi publik mengenai tata kota dan keamanan. Permintaan ini dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa langkah-langkah keamanan yang berlebihan justru menciptakan suasana ketakutan di masyarakat dan menghambat akses publik, alih-alih memberikan rasa aman.

Menurut Pramono, keberadaan pagar-pagar tinggi dan pembatas masif tersebut tidak hanya merusak estetika kota, tetapi juga berpotensi menjadi penghalang evakuasi saat terjadi keadaan darurat. Ia menekankan bahwa pendekatan keamanan harus lebih humanis dan proporsional, tanpa menimbulkan kesan bahwa setiap ruang publik adalah zona rawan konflik. Pernyataan ini memicu perdebatan luas mengenai efektivitas dan dampak psikologis dari kebijakan keamanan di fasilitas umum.

▼ SCROLL UNTUK LANJUT MEMBACA ▼
▲ LANJUTAN ARTIKEL ▲
Baca juga

"Kita harus bertanya, apakah pagar-pagar tinggi ini benar-benar membuat kita lebih aman, atau justru membuat kita merasa terkepung?" ujar Pramono Anung dalam pidatonya. "Saya melihat banyak mal dan gedung yang kini seperti benteng. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga tentang bagaimana kita membangun ruang publik yang inklusif dan ramah bagi semua, bukan yang penuh ketakutan." Ia menambahkan bahwa pemerintah akan mengkaji ulang regulasi terkait standar keamanan bangunan publik.

Tren peningkatan penggunaan pagar besi dan pembatas keamanan di ruang publik, khususnya di pusat perbelanjaan dan perkantoran, mulai marak terlihat pasca-serangkaian insiden terorisme di beberapa kota besar pada pertengahan 2010-an. Kala itu, langkah-langkah pengamanan diperketat secara drastis sebagai respons cepat terhadap ancaman. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak pihak mulai mempertanyakan relevansi dan proporsionalitas dari implementasi keamanan yang cenderung seragam tanpa mempertimbangkan konteks lokasi atau potensi ancaman terkini. Ironisnya, upaya menciptakan rasa aman ini justru berbalik menjadi sumber kecemasan baru bagi sebagian masyarakat, yang merasa ruang geraknya dibatasi dan diawasi secara berlebihan.

Like 0
Love 0
Wow 0
Haha 0
Sad 0
Angry 0
Advertisement

Kata Aktualizer

  1. Belum ada komentar.

Tulis komentar

Silakan login atau daftar untuk menulis komentar.

Related to this topic:

Advertisement