Disonansi Jakarta: Elit Politik Berpolemik Hukum Saat Padang Dilanda Bencana
Jakarta, Aktualis.ID - Pada Minggu, 11 Oktober 2026, di tengah lumpur sisa banjir bandang yang belum sepenuhnya kering di Padang, Sumatera Barat, panggung politik di Jakarta justru disibukkan oleh pertarungan narasi terkait legitimasi hukum kekuasaan di Mahkamah Konstitusi serta manuver partai koalisi merespons wacana pemakzulan. Siapa yang menjadi pusat perhatian? Para elit partai dan pengambil kebijakan di ibu kota yang berdebat sengit mengenai kursi kekuasaan, sementara ribuan warga di daerah terdampak bencana berjuang sendiri menghadapi krisis keselamatan, ketiiban logistik, dan evakuasi darurat yang lamban akibat minimnya responsivitas pusat dan daerah pada akhir pekan ini. Mengapa kontras tajam ini terjadi? Karena kalkulasi elektoral dan pertahanan posisi koalisi mendominasi prioritas parpol pendukung pemerintah, mengalahkan urgensi penanganan kemanusiaan yang mendesak. Bagaimana hal ini dieksekusi? Melalui rangkaian rapat kilat di Senayan yang mengabaikan penderitaan warga regional demi mengamankan status quo kekuasaan.
"Sangat memilukan ketika Jakarta sibuk berhitung kalkulasi politik hukum dan ancaman pemakzulan, sementara warga di pengungsian Padang kelaparan dan kehilangan tempat tinggal tanpa kehadiran negara yang memadai," ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (11/10).
Disonansi akut antara Jakarta dan daerah ini memperlihatkan bagaimana politisi kehilangan kepekaan moral. Di satu sisi, partai-partai koalisi berlomba-lomba mengeluarkan pernyataan sikap untuk membentengi kekuasaan dari terpaan turbulensi hukum di MK. Di sisi lain, pemerintah daerah dan pusat tampak gagap mengoordinasikan tanggap darurat hidrometeorologi yang sebenarnya sudah berulang kali diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kegagapan birokrasi ini tidak hanya memperpanjang penderitaan korban, tetapi juga menguji konsistensi parpol dalam mengelola krisis ganda secara bersamaan.
Sementara itu, warga terdampak di Padang, Rahmat (43), menyuarakan kekecewaannya yang mendalam terhadap para wakil rakyat. "Kami di sini tidak peduli siapa yang mau dimakzulkan atau siapa yang menang di MK. Yang kami butuhkan hari ini adalah air bersih, makanan, dan kepastian tempat tinggal setelah rumah kami diterjang banjir bandang," tegas Rahmat di lokasi pengungsian.
Kata Aktualizer
- Belum ada komentar.