Trump juga menekankan bahwa negosiasi dengan Iran berlangsung “sangat baik.” Namun, ia menambahkan bahwa “kamu tidak pernah tahu apa yang akan terjadi” dengan Iran.
Global
Aksi ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari aktivis, pekerja, mahasiswa, hingga tokoh publik. Kehadiran figur terkenal turut menarik perhatian masyarakat luas.
Keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang sejak awal melakukan komunikasi intensif dengan pihak Iran.
Yang paling menyita perhatian adalah dua video pendek yang muncul pada malam 25 Maret. Video pertama yang kemudian dihapus menampilkan rekaman ponsel mengarah ke bawah, memperlihatkan sepatu bot hitam dan suara perempuan yang bertanya, “It’s launching soon, right?”, lalu dijawab suara laki-laki di luar kamera.
Ia menyebut bahwa alasan utama di balik sikap tertutup Iran adalah rasa takut terhadap konsekuensi politik dan keamanan di dalam negeri.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan bahwa ia telah menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan menjaga keamanan energi nasional.
Selain itu, Pakistan juga memiliki hubungan historis dan budaya dengan Iran, yang dapat menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan antara pihak-pihak yang bertikai.
Trump mengklaim keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi yang “baik dan produktif” antara pihak Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyebutnya sebagai bagian dari manipulasi informasi.
Penundaan ini dinilai sebagai sinyal de-eskalasi pertama setelah ketegangan meningkat tajam akibat ancaman serangan terhadap fasilitas vital Iran.