Keputusan darurat ini tidak terhindarkan mengingat pemerintah tidak lagi mampu menanggung beban subsidi energi yang membengkak di tengah menyusutnya cadangan devisa dan berkurangnya puluhan jadwal kargo gas alam cair (LNG) dari pasar internasional.
Inti ancaman Trump sangat gamblang. Dalam wawancara yang dikutip Reuters, ia berkata, “If they don’t do something by Tuesday evening, they won’t have any power plants and they won’t have any bridges standing.”
Akar kepanikan pasar kali ini bukan hanya dentuman misil di Timur Tengah, tetapi juga runtuhnya harapan de-eskalasi. Setelah sempat muncul optimisme soal peluang jeda konflik, sentimen itu buyar ketika Iran menolak sinyal damai dari Washington.
Ia menyebut bahwa alasan utama di balik sikap tertutup Iran adalah rasa takut terhadap konsekuensi politik dan keamanan di dalam negeri.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan bahwa ia telah menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan menjaga keamanan energi nasional.
Trump mengklaim keputusan tersebut diambil setelah adanya komunikasi yang “baik dan produktif” antara pihak Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan menyebutnya sebagai bagian dari manipulasi informasi.
Pasar saham di kawasan Asia Pasifik anjlok tajam pada awal pekan akibat ultimatum Presiden Donald Trump terhadap Iran.
Fokus utama konflik kini juga tertuju pada Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dan gas dunia.
Kapal selam tersebut adalah HMS Anson, salah satu armada canggih milik Royal Navy. Kapal ini dikenal memiliki kemampuan tempur tinggi, termasuk meluncurkan serangan presisi jarak jauh.